Ibadah sejatinya merupakan kewajiban utama dari umat manusia. Selain sebagai bentuk dari pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan ibadah juga bernilai sebuah ketaatan. Meski pun demikian, ibadah haruslah dilakukan dengan sukarela tanpa adanya keterpaksaan. Hal ini lantaran di dalam ibadah terdapat makna mendalam tentang keterikatan seorang hamba pada Allah Ta’ala. Maka dari itu, sudah sepatutnya jika sebaiknya ibadah tidak memberatkan seseorang hingga membuatnya kesusahan bahkan kewalahan. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pun telah lama memberikan saran pada sahabat dan umatnya terkait pelaksanaan ibadah agar mencapai tujuan pahala namun tidak memberatkan kita.
Hal ini sebagaimana diketahui dari Aisyah radliyallahu ‘anha ia berkata bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam mendatanginya dan bersamanya ada seorang wanita lain, lalu Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bertanya, “Siapa ini?” Aisyah menjawab, “Si fulanah.” Lalu diceritakan tentang shalatnya. Maka Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tinggalkanlah apa yang tidak kalian sanggupi, demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang menjadi bosan, dan (amalan) agama yang paling dicintai-Nya adalah apa yang senantiasa dikerjakan secara rutin dan terus menerus.” (Shahih Bukhari Hadis ke 41)
Hadist di atas menjelaskan tentang cara yang tepat untuk memaksimalkan pelaksanaan ibadah tanpa harus menyulitkan diri kita. Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam menyampaikan bahwa sebaiknya kita meninggalkan ibadah yang tidak disanggupi. Terlebih lagi jika ibadah ini dilakukan secara terpaksa hanya untuk memperbanyak jumlahnya tanpa ada perasaan khusyuk di dalamnya, maka ibadah tersebut tidak bernilai apa-apa. Orang-orang yang mengerjakan ibadah karena terpaksa atau terburu-buru hanya akan kehilangan waktu saja tanpa pernah mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hal ini kerap terjadi lantaran mereka tidak memfokuskan diri pada upaya untuk senantiasa mengaitkan hati kepada Allah. Tidak ada nilai muhasabah di dalam ibadah yang dilaksanakannya. Sebaliknya, agar ibadah kita bisa diterima dengan baik sekaligus mencapai pahala yang sempurna, Rasulullah berkata bahwa penting untuk memerhatikan rutinitas ibadah tersebut. Ibadah yang baik adalah yang dijalankan secara rutin meski hanya sedikit. Rutinitas beribadah inilah yang sejatinya membantu kita mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah tidak menghitung banyaknya amalan yang dikerjakan hamba-Nya melainkan kekhusyukan yang mencapai sempurna.