4 Sikap Mulia Ini Lindungi Umat Manusia dari Kerugian Dunia dan Akhirat

Salah satu hal yang menjadi keinginan bagi setiap manusia didunia adalah keberuntungan dalam hidup. Bukan tanpa sebab, pasalnya melalui hal tersebut akan sangat memungkinkan bagi kita untuk bisa memeroleh kebahagiaan dan kenyamanan. Bahkan setidaknya, kita bisa berpeluang mendapatkan kehidupan yang berkecukupan meski belum sesuai dengan harapan. Namun, dalam Islam sejatinya keberuntungan tidak selalu berkaitan dengan pencapaian atau pemerolehan perkara berbau materi semata.

Secara umum, Mukmin yang beruntung adalah yang mampu memanfaatkan waktu didunia untuk melakukan beragam kebaikan. Sayangnya, tidak semua orang benar-benar termasuk dalam golongan tersebut. Ada kriteria tertentu yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala terkait golongan orang yang beruntung. Hal ini sebagaimana diketahui dalam Al-Qur’an bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang berbunyi sebagai berikut ini,

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling memberi nasihat agar menaati kebenaran dan saling memberi nasihat agar menetapi kesabaran.” (QS.Al-Ashr: 1-3)

Kepada hamba-Nya, Allah telah lama memperingatkan bahwa sejatinya umat manusia senantiasa berada dalam keadaan merugi. Hal ini lantaran dunia yang menjadi tempat tinggal manusia penuh dengan ujian dan godaan sehingga memudahkan mereka terjerumus dalam perbuatan dosa dan maksiat. Hanya ada beberapa orang yang mampu terlindungi dari kerugian tersebut. Salah satu diantaranya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keimanan ini melindungi mereka dari kerugian besar yang telah disebutkan tadi karena dapat mengawal hidup mereka untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Ketakwaan yang benar sejatinya juga mendukung orang-orang yang beriman dengan mudah mengerjakan banyak amal saleh. Bahkan, antar sesama, mereka akan senantiasa saling menasehati satu sama lainnya untuk tetap menaati kebenaran sekaligus menetapi kesabaran. Ada keutamaan dari dua perkara ini.

Orang-orang yang menaati hal yang benar selalu terlindungi dari godaan setan yang menyesatkan. Ini menandakan minimnya peluang bagi mereka untuk terjerumus pada perbuatan buruk. Sementara, menetapi kesabaran berarti berusaha untuk tetap lapang dada dalam menghadapi setiap fase kehidupan. Tak sekedar hal ini, kesabaran juga berkaitan dengan kemampuan kita untuk bertahan agar dari godaan dosa dan maksiat. Orang-orang seperti inilah yang masa kehidupan dunianya akan jauh dari kerugian.