Begitu banyak hal yang bisa menjadikan seseorang merasa tidak bersyukur. Segalanya sering kali berkaitan dengan perkara yang berbau kekayaan dan pencapaian. Tidak jarang, hal ini bahkan membuat kita untuk semakin menyibukkan diri dalam mengejar nikmat duniawi. Pada kenyataannya, perkara yang berhubungan dengan dunia tidak akan dibawa mati. Kerap kali, perasaan yang timbul ini membuat umat manusia menjadi pesimis sehingga merasa tidak beruntung. Sayangnya, keberuntungan bagi seorang Muslim tidak dinilai dari banyaknya harta, luasnya kekuasaan, dan tingginya pencapaian.
Orang-orang yang beruntung menurut Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah mereka yang memiliki tiga hal yang sebagaimana beliau pernah bersabda,
“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberikan rezeki yang cukup, dan Allah membuatnya merasa puas dengan apa yang telah diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyampaikan bahwa sejatinya ada tiga tanda utama dari orang-orang yang beruntung. Pertama, orang tersebut memeluk Islam. Islam adalah perkara baik yang membawa banyak manfaat bagi pemeluknya. Kaum Muslimin dan Muslimat menjalani hidup duniawi yang sehat dan senantiasa berada pada jalur yang tepat. Hal ini menjauhkan umat Islam dari perilaku buruk dan merugikan. Dalam urusan akhirat, kaum Muslimin dan Muslimat berpeluang meraup banyak pahala juga kebaikan yang semuanya hanya akan bermanfaat untuk kehidupan abadi setelah hari Kiamat.
Yang kedua, orang-orang beruntung sejatinya adalah mereka yang diberikan rezeki cukup. Rezeki cukup adalah yang tidak kurang juga tidak berlebihan. Semuanya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan. Dari rezeki tersebut, orang-orang yang beruntung ini juga dapat menyalurkannya kembali pada pihak-pihak yang kekurangan. Mereka mampu meraup kebaikan dari kecukupan rezeki tersebut. Pada akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jalan pada mereka untuk memperkaya amal kebaikan dari apa yang mereka miliki saat ini. Tentu saja, ini merupakan sebuah keberuntungan yang tak dapat digantikan dengan apa pun.
Terakhir dan tak kalah penting, orang-orang yang beruntung adalah mereka yang juga merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya. Hal ini menggambarkan adanya sifat qanaah yakni menerima segala bentuk hal yang telah Allah tetapkan. Baik dalam perkara rezeki, nasib, dan apa pun yang berkaitan dengan hidupnya orang-orang yang merasa cukup ini akan senantiasa bersyukur. Sikap syukur tersebut juga yang menjadi alasan dari rezeki yang semakin luas dan bertambah. Maka dari itu, jangan pernah mengesampingkan keutamaan dari sikap syukur terhadap Allah karena hal tersebut merupakan bagian dari tanda bahwa kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung.